Bulletin Mardhotillah

Blog ini bertujuan untuk mempublikasikan tausiyah jum'at yang ada di Badan Dakwah Islam CNOOC.SES.Ltd. mudah mudahan barokah dan berguna, Kontirbutor : Ujang Asri Wijaya; Faishal Fahmy; Munji Syarief; Arief Hediyanto; Achmad Fachrizal;Wahyu Satria

Sunday, February 26, 2006

LASKAR CINTA

LASKAR CINTA

(Cerita tentang Cinta dan Kasih Sayang)

Pada bulan Februari 2006 ini kita banyak mendengar bertebaran kata-kata cinta dan kasih sayang, yang meluncur dari mulut maupun hati yang paling dalam, dengan keikhlasan dan motivasi yang sangat beragam.

Di satu sisi ungkapan cinta dan kasih sayang itu dimanifestasikan oleh ummat Islam di hampir seluruh penjuru dunia lewat gelombang protes dan kemarahan atas penayangan kartun yang menghina Rasulullah Muhammad SAW oleh sejumlah media massa Barat. Dengan sangat tendensius dan penuh kesengajaan, mereka mencoba meniupkan kebencian terhadap Islam lewat penggambaran stereotip yang sangat keliru tentang Rasulullah SAW dan ummat Islam pada umumnya. Sehingga sangat layak bagi kita -yang masih mempunyai secuil saja rasa kecintaan kepada Islam dan Rasulullah SAW- untuk merasa tersinggung, marah dan mengutuk perbuatan tersebut. Bahkan demi sebuah izzah (kemuliaan) dan kecintaan yang sangat tinggi, tidak sedikit dari ummat Islam yang merelakan nyawanya demi membela kemuliaan seorang manusia yang paling dicintai bahkan melebihi kecintaan kepada diri sendiri. Mereka inilah laskar cinta yang sejati!

QS-9:24 Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Dari Anas ra. Dari Nabi SAW, sabdanya: “Tidak sempurna iman seseorang kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu bapaknya, anaknya dan manusia pada umumnya.

Di sisi lain dalam waktu yang sama, kita menyaksikan gelombang kesibukan yang juga bertemakan cinta dan kasih sayang di sejumlah penjuru, lewat media massa, di pusat perbelanjaan, pusat hiburan dan bahkan di sekolah-sekolah dan ruang publik lainnya. Pada hari itu, mereka yang mengaku sebagai ‘pecinta’ dengan segala aksesories yang melambangkan cinta, bersibuk-ria merayakan sesuatu yang entah sejak kapan mereka sebut sebagai Valentine’s Day atau ‘hari kasih sayang’. Suatu hari dimana mereka menghabiskan waktu dengan saling mengucapkan "selamat hari Valentine", berkirim kartu, bunga dan coklat, serta segala pernik-pernik yang bergambar hati atau berwarna pink, saling bertukar pasangan, saling curhat, menyatakan rasa sayang atau cinta bahkan bila perlu ditindak lanjuti dengan tindakan yang lebih fisikal berupa ciuman, pelukan dan perilaku ‘taqrabuzzina’ (mendekati perbuatan zina) lainnya. Padahal tidak sedikit dari mereka yang merayakan hari tersebut adalah saudara-saudara kita sesama muslim/muslimah, terlepas mereka melakukannya dengan penuh kesadaran atau sekadar ikut-ikutan. Atas nama cinta dan kasih sayang, mereka rela mendepresiasi aqidahnya, mereka inilah golongan yang sungguh merugi!

QS-17:36 Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabannya.

QS-2:120 Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Mereka tidak mengetahui atau pura-pura lupa bahwa sejarah Valentine’s Day itu bermula dari tradisi Kristen dan Katolik Roma pada abad ke-3 sewaktu pemerintahan Kaisar Claudius II. Ketika itu sang Kaisar memberlakukan aturan larangan kawin bagi tentara Romawi untuk mendapatkan pasukan yang tangguh, dengan asumsi mereka tidak akan terpengaruh oleh istri dan kehidupan keluarga. Tetapi salah seorang pendeta yang bernama Santa Valentinus ‘mbalelo’ dengan tetap mengadakan pemberkatan perkawinan beberapa tentara secara diam-diam. Hingga ketika rahasia ini terbongkar, Sang Kaisar marah besar dan menghukum mati Santa ‘Penebar Cinta” tsb. Martirnya sang Santa inilah yang menjadi dasar peringatan hari kasih sayang, yang saat ini sudah sangat kabur makna dan esensinya. Padahal dalam Islam, menebarkan cinta dan berkasih sayang kepada orang yang berhak menerimanya, adalah termasuk salah satu ciri orang yang beriman. Dan itu seharusnya menjadi salah satu bagian dari akhlak bagi setiap muslim, yang tidak dibatasi oleh waktu.

QS-42:23 Itulah karunia yang dengan itu Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih saying dalam kekeluargaan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri .

Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tuhan menciptakan rasa kasih sayang itu seratus bagian. 99 daripadanya disimpan-Nya di sisi-Nya. Satu bagian saja yang diturunkan-Nya ke atas dunia. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah para makhluk saling berkasih sayang, sehingga kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya terinjak (HR-Bukhari)

Rasa cinta dan kasih sayang memang universal, tiada yang berhak mengklaim dan memonopoli, ia adalah milik Allah Ar-Rahman AR-Rahiim, karena Dia-lah yang menciptakannya. Manusia hanya diberi turunan rasa cinta tersebut dalam kadar yang terbatas. Dengan segala keterbatasan itulah seharusnya kita mengelolanya dengan penuh tanggung jawab dan dalam koridor syar’i. Masih banyak cara mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang yang lebih islami dan bermakna hakiki. Misalnya berlaku lemah lembut terhadap orang tua dan tidak mengatakan perkataan yang menyakitkan walau sekadar ‘ah!’, menyayangi anak-istri, saudara dan keluarga, bersilaturahim kepada karib kerabat, menghormati dan berbuat baik pada tetangga, menyantuni anak yatim dan dhuafa, menebar salam kepada sesama muslim, hingga memberi minum anjing yang sedang kehausan sekalipun!. Sebuah ungkapan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar pesta dan hura-hura ‘hari kasih sayang’ yang beraroma api neraka. Semoga kita tergolong sebagai laskar cinta Allah dan RasulNya, yang menebarkan benih-benih cinta dan membasmi virus-virus benci di muka bumi, sehingga sempurnalah iman kita sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadist riwayat Imam Bukhari dari Anas ra: “Tidak sempurna iman seseorang di antaramu sebelum ia mencintai saudaranya sesama muslim seperti ia mencintai dirinya sendiri”. (Faishal Fahmy/Ujang Wijaya)